Desain pembelajaran adalah praktik penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara pendidik dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Sebagai suatu disiplin, desain pembelajaran secara historis dan tradisional berakar pada kognitif dan perilaku.
Dengan kata lain, desain intruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan teknik mengajar dan materi pembelajarannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan paket pembelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi dan kegiatan mengevaluasi hasil belajar. Pendekatan sistem dalam pendidikan dapat mencakup beberapa daerah bidang garapan. Misalnya pendekatan sistem kurikulum, sistem pembelajaran, sistem implementasi, sistem implementasi dan sebagainya.
Metode pembelajaran Dick dan Carey merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan melalui pendekatan sistem (System Approach). Terhadap komponen-komponen dasar dari desain sistem pembelajaran yang meliputi analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Metode sistem pembelajaran yang dikembangkan oleh Dick dkk terdiri atas beberapa komponen yang perlu dilakukan untuk membuat rancangan aktifitas pembelajaran yang lebih besar. Dick dan Carey memasukan unsure kognitif dan behavioristik yang menekankan pada respon siswa terhadap stimulus yang dihadirkan. Implementasi model desain sistem pembelajaran ini memerlukan proses yang sistematis yang menyeluruh. Hal ini dipelukan untuk dapat menciptakan desain sistem pembelajaran yang mampu digunakan secara optimal dalam mengatasi masalah-masalah pembelajaran.
Rancangan Dick And Carey
Menurut Gafur dalam Soeharto ( 1988: 12) definisi desain instruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan teknik mengajar untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Termasuk didalamnya adalah pengembangan paket pembelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi, dan kegiatan mengevaluasi hasil belajar.
Perancangan bahan pembelajaran dan lingkungan belajar bisa berpedoman pola pikir dan prosedur yang berbeda ( Molenda & Boling, 2008:103). Perancangan pembelajaran dapat dijadikan titik awal upaya perbaikan kualitas pembelajaran. Ini berarti bahwa perbaikan kualitas pembelajaran harus diawali dari perbaikan kualitas desain pembelajaran dan merancang pembelajaran dengan pendekatan sistem (Degeng, 1999: 2). Desain sistem pembelajaran merupakan proses sistematik yang dilakukan dengan menerjemahkan prinsip prinsip belajar dan pembelajaran untuk diaplikasikan ke dalam bahan ajar dan kegiatan pembelajaran (Pribadi, 2009: 82).
Hakikat pendekatan sistem adalah membagi proses perencanaan pembelajaran kedalam langkah langkah, menyusun langkah langkah secara logis dan menggunakan hasil tiap tiap langkah sebagai masukan langkah berikutnya ( Molenda & Boling, 2008:104). Ada banyak model desain yang menggunakan pendekatan sistem. Desain tersebut berbeda dalam jumlah dan nama langkah langkahnya, serta fungsi masing masing langkah yang direkomendasikan ( Molenda & Boling, 2008:110).
Langkah – Langkah Pembelajaran Dick And Carey
1. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran idealnya diperoleh dari analisa kebutuhan yang benar benar mengindikasikan adanya suatu masalah yang pemecahannya adalah dengan memberikan pembelajaran (Dick, et al, 2001: 19). Sasaran akhir dari suatu pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran umum, oleh karena itu dalam merancang pembelajaran harus memperhatikan secara mendalam rumusan tujuan pembelajaran umum yang akan ditentukan.
2. Melakukan Analisis Pembelajaran
Tujuan utama analisis pembelajaran adalah mengidentifikasi pengetahuan dan ketrampilan yang harus ada pada pembelajaran (Dick, et al, 2001: 37) Karena prosesnya relatif kompleks, analisis pembelajaran terhadap tujuan pembelajaran umum dapat dilakukan melalui dua tahap : 1) menggolongkan pernyataan tujuan umum menurut jenis kapabilitas belajar. 2) melakukan analisa lanjutan untuk mengidentifikasi ketrampilan bawahan. Keduanya merupakan proses analisa pembelajaran.
Pembelajaran ketrampilan psikomotor biasanya memerlukan perpaduan ketrampilan intelektual dan ketrampilan motorik. Langkah pertama untuk analisa dilakukan dengan menerapkan prosedur analisis hierarkis (Dick, et al, 2001: 81).
3. Menganalisis Karakteristik Siswa Dan Konteks Pembelajaran
Selain melakukan analisis tujuan pembelajaran, hal penting yang perlu dilakukan dalam menerapkan model ini adalah analisis terhadap karakteristik siswa yang akan belajar dan konteks pembelajaran. Kedua langkah ini dapat dilakukan secara bersamaan atau paralel. Analisis konteks meliputi kondisi-kondisi terkait dengan keterampilan yang dipelajari oleh siswa dan situasi yang terkait dengan tugas yang dihadapi oleh siswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari. Analisis terhadap karakteristik siswa meliputi kemampuan aktual yang dimiliki oleh siswa, gaya belajar, dan sikap terhadap aktivitas belajar. Identifikasi yang akurat tentang karakteristik siswa yang akan belajar dapat membantu perancang program pembelajaran dalam memilih dan menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan.
4. Merumuskan Tujuan Pembelajaran Khusus
Perumusan tujuan khusus pembelajaran merupakan pernyataan tentang apa yang akan dicapai siswa setelah mereka selesai mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran khusus, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu :
a. Menentukan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh siswa setelah menempuh proses pembelajaran.
b. Kondisi yang diperlukan agar siswa dapat melakukan unjuk kemampuan dari pengetahuan yang telah dipelajari. Komponen kondisi dalam tujuan pembelajaran khusus menyebutkan sesuatu yang secara khusus diberikan atau tidak diberikan ketika pebelajar menampilkan perilaku yang ditetapkan dalam tujuan (Degeng, 1999: 2). Komponen kondisi bisa berupa bahan dan alat, informasi dan lingkungan.
c. Indikator atau kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam menempuh proses pembelajaran. Kriteria yang relevan tersebut dapat berupa kecermatan, waktu (kecepatan), kesesuaian dengan prosedur, kuantitas atau kualitas hasil akhir (Degeng, 1999: 5).
5. Mengembangkan Instrumen Penilaian
Berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan alat atau instrumen penilaian yang mampu mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Yang perlu diperhatikan dalam menentukan instrumen evaluasi yang akan digunakan adalah instrumen harus dapat mengukur performa siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Beberapa tujuan pembelajaran tidak bisa diukur dengan tes obyektif tetapi harus diukur unjuk kerja dengan pengamatan penilai. Untuk membuat instrumen penilaian ini harus dilakukan pemberian skor untuk tiap langkah yang dilakukan oleh pebelajar (Dick, et al, 2001:173).
Tes acuan patokan disusun secara langsung untuk mengukur tingkah laku yang digambarkan dalam tujuan. Ada empat jenis tes acuan patokan :
a. Tes perilaku awal atau entry behavior test. Tes ini diberikan sebelum mulai pembelajaran. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah pebelajar telah menguasai ketrampilan yang menjadi prasyarat bagi pembelajaran.
b. Tes pendahuluan atau pre test, adalah tes acuan patokan yang diperlukan untuk mengetahui profil pebelajar sehubungan dengan analisis pembelajaran. Pre test tidak selalu harus dilakukan. Pada saat topic yang akan dipelajari merupakan sesuatu yang baru, maka hasilnya pre test kadang tidak bisa menggambarkan kemampuan pebelajar yang sebenarnya. Hal ini karena pebelajar mungkin menebak jawaban tes.
c. Latihan adalah tes yang bertujuan untuk membuat pebelajar berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Latihan bisa membuat pebelajar mengulang kembali pengetahuan dan ketrampilan baru sekaligus menilai tingkat pemahaman dan ketrampilannya sendiri. Pembelajar menggunakan hasil latihan untuk memberikan umpan balik dan memonitor kecepatan pembelajaran.
d. Post test adalah tes acuan patokan yang mencakup seluruh tujuan pembelajaran yang mencerminkan hasil belajar yang dilakukan siswa. Meskipun begitu, tujuan awal post test adalah untuk mengidentifikasi bagian pembelajaran yang tidak berhasil.
Keempat jenis tes itu dimaksudkan untuk digunakan selama proses desain pembelajaran (Dick, et al, 2001: 147-148).
Item tes dan tugas harus sesuai dengan :
1. Tujuan sementara dan tujuan akhir pembelajaran
2. Karakteristik dan kebutuhan pebelajar seperti tingkat penguasaan bahasa, tingkat perkembangan pebelajar, tingkat motivasional dan ketertarikan, pengalaman dan latar belakang dan kebutuhan khusus pebelajar (Dick, et al, 2001: 151-153). Desainer juga harus membuat keadaan pada saat tes sama dengan saat belajar. Item tes dan tugas harus realistis atau autentik. Pebelajar juga harus diberi petunjuk sebelum menjawab soal.
6. Mengembangkan Strategi Pembelajaran
Berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan sebelumnya, perancang program pembelajaran dapat menentukan strategi yang akan digunakan dalam pembelajaran. Strategi yang digunakan disebut strategi pembelajaran atauinstructional strategy. Asal konsep strategi pembelajaran adalah the events of instruction yang digambarkan oleh Gagne dalam bukunya Condition of Learning. Dick and Carey mengelompokkan kegiatan itu dalam lima komponen yaitu: 1) aktivitas pra pembelajaran, 2) penyajian materi atau isi, 3) partisipasi pebelajar, 4) penilaian dan 5) aktifitas lanjutan (Dick, et al, 2001: 189). Aktivitas pra pembelajaran dilakukan dengan memotivasi siswa, menginformasikan tujuan pembelajaran dan menginformasikan ketrampilan prasyarat pada pebelajar. Selanjutnya dilakukan penyajian materi. Kegiatan ini bukan hanya untuk menjelaskan konsep konsep baru saja, tetapi juga menjelaskan hubungan antar konsep. Desainer juga memutuskan berapa jenis dan jumlah contoh yang akan diberikan untuk tiap tiap konsep. Salah satu komponen yang paling kuat dalam proses pembelajaran adalah latihan dengan umpan balik. Desainer harus memberikan aktivitas yang relevan dengan tujuan disertai dengan umpan balik atau informasi tentang unjuk kerja mereka. Sedangkan untuk kegiatan lanjutan, desainer meninjau lagi strategi secara keseluruhan untuk menentukan berhasilnya proses belajar.
7. Mengembangkan Dan Memilih Bahan Ajar
Bahan ajar memuat isi yang akan digunakan pebelajar untuk mencapai tujuan. Termasuk didalamnya adalah tujuan khusus dan tujuan umum dan semua yang mendukung terjadinya proses belajar dalam diri pebelajar. Bahan ajar juga berisi informasi yang akan digunakan pebelajar untuk memandu kemajuan mereka selama pembelajaran. Semua bahan ajar juga harus dilengkapi dengan tes obyektif atau pengukuran kemampuan pebelajar. Termasuk didalamnya adalah soal pre test dan post test. Selain bahan ajar, diperlukan juga petunjuk penggunaan bagi pembelajar dan pebelajar (Dick, et al, 2001: 245)
8. Merancang Dan Mengembangkan Evaluasi Formatif
Tujuan dari evaluasi formatif adalah untuk mengumpulkan data yang terkait dengan kekuatan dan kelemahan pembelajaran. Hasil dari proses evaluasi formatif dapat digunakan sebagai masukan atau input untuk memperbaiki draf paket pembelajaran. Meskipun tujuan utamanya adalah mendapat data dari pebelajar tetapi tinjauan dari orang lain yang juga ahli merupakan hal yang penting (Dick et al, 2001: 285)
Tiga jenis evaluasi formatif dapat diaplikasikan untuk mengembangkan produk atau program pembelajaran, yaitu :
a. Evaluasi perorangan
Evaluasi perorangan merupakan tahap pertama dalam menerapkan evaluasi formatif. Evaluasi ini dilakukan melalui kontak langsung dengan minimal tiga orang calon pengguna program untuk memperoleh masukan tentang kesalahan kesalahan yang tampak dalam bahan ajar dan memperoleh petunjuk awal daya guna bahan ajar dan reaksi pebelajar pada isi bahan ajar. Untuk tahap ini dipilih satu orang pebelajar yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, satu orang berkemampuan sedang dan satu orang berkemampuan dibawah rata-rata.
b. Evaluasi kelompok kecil
Evaluasi kelompok kecil dilakukan dengan mengujicobakan program terhadap kelompok kecil calon pengguna. Evaluasi ini dilakukan untuk menentukan efektivitas perubahan yang telah dibuat setelah evaluasi perorangan dan mengidentifikasi masalah yang mungkin masih ada. Pada langkah ini, pebelajar bisa menggunakan bahan ajar tanpa interaksi langsung dengan pengembangan.
c. Evaluasi lapangan
Evaluasi lapangan adalah uji coba program terhadap sekelompok besar calon pengguna program sebelum program tersebut digunakan dalam situasi pembelajaran yang sesungguhnya.
9. Melakukan Revisi Terhadap Program Pembelajaran
Langkah akhir dari proses desain pengembangan adalah melakukan revisi terhadap draf program pembelajaran. Data yang diperoleh dari prosedur evaluasi formatif dirangkum dan ditafsirkan untuk mengetahui kelemahan- kelemahan yang dimiliki oleh program pembelajaran. Evaluasi formatif tidak hanya dilakukan pada draf program pembelajaran saja, tetapi juga terhadap aspek-aspek desain sistem pembelajaran yang digunakan dalam program, seperti analisis pembelajaran, entry behavior, dan karakteristik siswa. Prosedur evaluasi formatif, dengan kata lain, perlu dilakukan pada semua aspek program pembelajaran dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas program tersebut.
10. Merancang Dan Mengembangkan Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif merupakan jenis evaluasi yang berbeda dengan evaluasi formatif. Jenis evaluasi ini dianggap sebagai puncak dalam aktivitas model desain pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick dan Carey. Evaluasi sumatif dilakukan dilakukan setelah program selesai dievaluasi secara formatif dan direvisi sesuai dengan standar yang digunakan oleh perancang. Evaluasi sumatif tidak melibatkan perancang program, tetapi melibatkan penilai independen. Hal ini merupakan satu alasan untuk menyatakan bahwa evaluasi sumatif tidak tergolong ke dalam proses desain sistem pembelajaran.
Kesepuluh langkah desain yang dikemukakan di atas merupakan sebuah prosedur yang menggunakan pendekatan sistem dalam mendesain sebuah program pembelajaran. Setiap langkah dalam desain sistem pembelajaran ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Output yang dihasilkan dari suatu langkah akan digunakan sebagai input bagi langkah-langkah selanjutnya.
Langkah awal pada pembelajaran dick and carey adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran. Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam mata pelajaran tertentu di mana tujuan pembelajaran pada kurikulum agar dapat melahirkan suatu rancangan pembangunan.
Penggunaan metode pembelajaran dick and carey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan yakni agar:
- Pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan hal–hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran,
- Adanya pertautan antara tiap komponen khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki
- Menerangkan langkah–langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran.
pada penjelasan di atas terdapat kalimat : Dick dan Carey memasukan unsure kognitif dan behavioristik yang menekankan pada respon siswa terhadap stimulus yang dihadirkan. bagaimana cara memberikan stimulus kepada siswa agar respon yang diharapkan akan mencakup kedua unsur yang ada pada Dick dan Carey memasukan unsure kognitif dan behavioristik? jelaskan pendapat anda jika bisa berikan contohnya .....
BalasHapusMenurut saya, pemberian stimulus disini berarti memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan contoh, penekanan baik verbal maupun feature (hal pendukung lainnya). Dengan cara ini akan mencakup unsur kognitif (pengetahuan) dan behavioristik (tingkah laku).
BalasHapusContoh: Guru menyampaikan materi “hutan” dengan bercerita menggunakan miniatur hutan (dibuat sendiri, berupa gambar-gambar seperti : pohon, binatang, jamur, batu, matahari, air dll yang diberi tongkat). Guru juga mengajak siswa ikut memainkan miniatur yang disediakan.
Menurut saya pemberian stimulus yang mengharapkan respon kognitif dan behavioristik adalah dengan memberikan contoh secara verbal serta membawa contoh secara nyata. Dengan begitu maka bisa di dapatkan respon secara kognitif dan behavioristik. Siswa akan mendapatkan pengetahuan dari penyampaian verbal guru dan menghasilkan reapon behavioristik serta contoh yang di bawa tersebut membuat siswa menghasilkan respon kognitif . Koqnitif artinya siswa mengetahui serta mampu mengaplikasikan dari informasi yang di dapat. Sedangkan behavioristik artinya siswa hanya mengetahui saja bahwa itu adalah informasi baru.
BalasHapusmenurut saya, pemberian stimulus supaya unsur kognitif dan behavioristik muncul yaitu saya ambil contoh pada praktikum kimia sebelum masuk kelaboratorium maka diberi stimulus terlebih dahulu bahwa dilaboratorium itu saat mengencerkan suatu zat berbahaya jika tidak menggunakan masker dan sarung tangan. oleh karena itu, secara otomatis siswa akan tahu bahwa dilaboratorium itu berbahaya jika tidak memakai masker dan sarung tangan saat mengencerkan zat. secara otomatis menjadi kebiasaan ketika kemudian hari akan praktikum, maka siswa akan memakai masker dan sarung tangan. dan siswa pun tahu bahwa zat-zat dilaboratorium itu sangat berbahaya
BalasHapusCara membuat stimulus pada siswa dapat dg gerakan, pertanyaan dan berbagai variasi yg djelaskan sbb.
BalasHapusVariasi stimulus : suatu kegiatan guru dalam konteks proses interasksi belajar-mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajar-mengajar siswa senantiasa menunjukan ketekunan, antusias serta penuh partisipasi.
Aspek-aspek yang dilatihkan
1. Gerak guru/teacher movement/
Tujuan : untuk melatih calon guru agar dalam menghantarkan pelajarannya didalam kelas telah terbiasa bergerak bebas {tidak “kikuk” atau “kaku”}
1) Gerak Bebas
Biasakan bergerak bebas dalam kelas, dengan maksud untuk memberikan dorongan dan menanamkan “rasa dekat” pada siswa sekaligus sambil mengontrol tingkah laku siswa.
2) Menerangkan Bahan
Jangan menerangkan sambil menulis menghadap papan tulis, sebaiknya menulis baru menerangkan.
3) Menerangkan Dan Gerak
Jangan membiasakan menerangkan sambil berjalan mondar-mandir, tetapi jangan pula membiasakan menerangkan hanya sambil duduk melulu
4) Arah Pandang
Arah pandang hendaklah menjeljahi keseluruhan kelas, pada waktu seorang siswa bertanya, usahakan bergerak menjauhi sipenanya, agar sipenanya mengucapkan pertanyaannya terdengar oleh semua siswa.
5) Ketika Siswa Bertanya
Pada waktu seorang siswa bertanya, usahakan bergerak menjauhi sipenanya, agar sipenanya mengucapkan pertanyaannya terdengar oleh semua siswa.
6) Observasi
Bila menginginkan untuk mengobservasi seluruh siswa, maka bergeraklah perlahan-lahan dari arah belakang kelasa kedepan, agar dapat mengetahui tingkah laku siswa dengan seksama tanpa diketahui oleh siswa yang bersangkutan.
2. Isyarat guru/teacher Gesture
MAKSUDNYA : GERAK TUBUH atau anggota badan yang mengandung arti dalam hubungannya untuk menimbulkan perhatian, rangsangan pada siswa.
1) Gerak Tangan
Menggambarkan sesuatu, misalnya dengan gerak tangan dapat digambarkan suatu benda, ukuran, maupun kecepatan gerak suatu benda.
2) Gerak Anggukan Kepala
Menyatakan suatu maksud, misalnya dengan mengangguk-anggukan kepala berarti menyatakan setuju.
3) Gerak Mengangkat Alis
Mengangkat alis mata tinggi-tinggi berarti menunjukan rasa kagum, tercengang, heran dan lain-lain.
4) Gerak mengkerutkan Kening
Menyatakan belum/tidak faham terhadap yang diucapkan oleh sipembicara.
5) Gerak Bertepuk Tangan
Sipembicara mengundang perhatian agar perhatiannya terpusat kepada dia, atau menyatakan kagum, mensuport dan lain-lain.
3. Suara Guru/Teacher voice
TUJUANNYA : Agar orang yang mendengarkan senantiasa memperbarui perhatiannya, dianjurkan jangan bicara dengan nada yang sama (monoton). Pembicaraan yang hidu dan mengundang perhatian yang mendengarkan yaitu bila diucapkan dengan pola bicara yang berganti-ganti, sebab hal itu akan menanamkan rasa senang bagi yang mendengarkan.
4. Kebisuan Guru/Teacher Silence
MAKSUDNYA : Pembicaraan akan lebih mengundang perhatian pendengar bila diucapkan dengan teknik “selingan diam”, tetapi bila teknik diam tersebut digunakan terlalu lama malah akan mengundang kegelisahan yang meningkat kea rah kebosanan pihak pendengar.
Teknik diam mendadak di tengah-tengah pembicaraan bila digunakan secara tepat akan mengundang perhatian yang serius dari siswa, sebab rasa keinginan mengetahui lebih lanjut.
Guru yang telah berpengalaman, bila kepadanya dilontarkan suatu pertanyaan maka tidak tergesa-gesa untuk menjawabnya, dengan tujuan untuk mengatur siasat dalam rangka menyusun jawaban dan bila perlu dapat melontarkan balik bertanya.
5. Gaya Interaksi {Interaktion Styles}
Agar jangan menimbulkan kebosanan, kejemuan serta untuk menghidupkan suasana kelas,
Menurut saya pemberian stimulus yang mengharapkan respon kognitif dan behavioristik adalah dengan memberikan contoh secara verbal serta membawa contoh secara nyata. Dimana guru harus mamapu membwa pembelajaran ke lingkungan sekitar. Jadi Koqnitif artinya siswa mengetahui serta mampu mengaplikasikan dari informasi yang di dapat. Sedangkan behavioristik artinya siswa hanya mengetahui saja bahwa itu adalah informasi baru.
BalasHapusmenurut saya memberikan stimulus dan respon pada model Dick and Carey. contoh pada materi larutan asam dan basa jadi stimulusnya guru membawa beberapa larutan jadi respon siswa bisa membedakan mana larutan asam dan mana larutan basa.
BalasHapus